Sore itu seusai menyelesaikan piket, aku melangkahkan kakiku menuju koridor kelas yang terletak dilantai 2. Saat itu hujan sedang turun, membuat lapangan yang terbuat dari semen milik sekolahku penuh dengan kubangan air.
Bulir-bulir hujan mengguyur mereka--yang tengah bermain bola dengan asyiknya dibawah sana. Seolah semua masalah seperti tiada. Senyum,dan tawa benar-benar tulus tergambar diwajah mereka. Membuat yang melihatnya ikut tertawa dan merasa lega.
Saat itu, aku bermonolog dengan diriku sendiri. Yang saat itu..Tengah merasa ingin menyudahi hidup yang Allah berikan padaku, tanpa alasan yang jelas.
Aku berpikir keras.
Kubiarkan semilir angin pengiring hujan mencumbui wajahku yang terlapis kain putih penjaga hartaku seumur hidup.
Kenapa ya? Kok aku ingin mati?
Padahal... hidup ini..benar-benar indah..
Kenpa ya? Kok aku berpikir bodoh seperti ini?
Padahal...Masih banyak orang yang mencintai aku..
Kenapa ya? Kok aku mengambil kesimpulan dengan bodoh begini?
Padahal...Banyak sekali pengalaman yang belum kudapatkan...
Kenapa ya? Bisa-bisanya aku berpikir begini?
Padahal...Hidup itu sesuatu yang berharga..
Kenapa ya? Kok ada pikiran seperti ini?
Padahal...Hidup itu cuma sementara..
Kenapa ya? Aku berpikir begini?
Padahal...Aku ingin masuk surga...
Kuakhiri dialog dengan diriku sendiri itu. Tepat saat hujan mereda dan menampakkan sang mentari. Senyuman terukir dibibirku, kemudian aku melangkah pergi dari koridor. Berjalan dengan penuh semangat. Bertekad untuk menjalani setiap detik dengan semangat. Aku tidak ingin kalah dari Aya Kito, seorang penderita SCA yang meninggal pada tahun 1988 di umurnya yang ke-25. Meski ia tau penyakitnya tidak dapat disembuhkan, ia tetap berjuang untuk hidup. Karena Hidup itu sungguh berharga baginya...
"Berbahagialah selama kau masih dapat melihat langit..."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar