Malam itu kupandang wajahnya yang tengah terbaring di tempat tidur itu. Sesekali ia terbatuk lantaran flu yang tengah dideritanya. Kulihat lagi wajahnya. Tidak semuda dulu, rambutnya pun telah beruban. Padahal usianya baru memasuki usia 37 tahun. Namun, Ibu ku adalah orang yang kuat. Meskipun sakit, ia jarang mengeluh dan lebih memilih berdzikir sembari menahan rasa sakit. Sekali lagi kulihat lagi wajahnya, mengingat masa masaku dahulu, yang selalu kau bantu dengan bahu yang bahkan lebih kecil dariku.
Ibu.. ingat tidak saat itu? Ah bukan, kurasa ibu tidak akan melupakan kejadina itu. Ketika aku sempat melenceng ke jalan yang salah karena barikade-ku belum terlalu kuat. Saat itu Ibu menangis hebat dihadapanku. Aku hanya bisa menangis juga, menyesal. Dan entah mengapa.. juga kesal. Aku menyesal karena membuatmu menangis Ibu.. Apa yang harus aku katakan nanti dihadapan Allah saat ia menanyakannya? Tapi.. bukankah itu adalah sebuah sisi baik bu? Allah berbaik hati membukan kesalahanku padamu bu.. orang yang dekat denganku.. bukan pada Guru,teman,saudara,.. atau yang lain. Sehingga hingga sekarang, aku bisa bernafas lega..
Ibu.. ingat tidak saat itu? Ketika aku memiliki masalah yang sangat membebaniku di sekolah.Lagi-lagi masalah teman. Masalah anak muda pada umumnya. Memiliki seseorang yang tak disukai.. Setiap hari engkau tak bosan mendengarkan aku mengoceh tentang masalahku dengannya, menemaniku menangis hampir setiap hari, bahkan sampai mengontak sekolah agar membantuku dalam menyelesaikan masalah. Eh, bu. Tau gak? Sekarang aku malah berteman baik dengannya. Seorang yang aku anggap musuh pada awalnya, semua berkat ibu, teman-teman, juga guru.
Ibu.. ingat tidak saat aku pulang dari acara LDKS? Ketika itu aku menjadi panitia, harus menyusur gunung 3 kali dengan medan tanjakan dan jalan berbatu serta kebun. Mengawasi peserta, tidur hanya 15 menit.. itupun diatas tanah dibawah langit dengan alas seadanya tanpa selimut di dataran tinggi-Paku Haji. Dan masih harus mencari peserta yang hilang karena lepas dari pengawasan kami, juga menyiapkan outbond untuk peserta. Itu juga masih harus pulang jalan turun gunung deh. Ehehe..
Begitu aku sampai dirumah, ibu tidak banyak bicara melihatku yang langsung terkapar dilantai ruang tengah. Hanya langsung menyuruhku mandi dan segera istirahat. Padahal saat itu aku belum melakukan tugas harianku seperti mencuci piring, atau bersih-bersih. Aha, ibu baik ya <3
Ibu..masih ingat saat aku mengatakan aku ketakutan sentengah mati dengan yang namanya “kematian?”. Saat itu ibu hanya mengenggam tanganku dan menjelaskannya dengan teramat tegas. Saat aku masih takut dengan hal yang sama.. engkau tidak ragu membiarkanku untuk tidur disebelahmu. Terus menanyakan keadaanku. Dan membuat perasaanku hangat..
Ibu.. masih ingat kan dengan rutinitasmu di pagi hari? Kau selalu menyiapkan sarapan seadanya. Entah itu makan sisa makan malam yang tak sempat kuhabiskan, atau membuat sebuah makanan baru. Dan satu yang pasti, selalu tersedian segelas teh hangat, dan susu dimeja makan. Walau makanan itu terasa sederhana.. entah kenapa tidak akan ada temoat makan manapun yang bisa menyamainya.
Ibu.. masih ingat saat kau menghiburku yang menangis karena mendapat nilai buruk? Kau menepuk punggunggku dengan lembut dan berkata “tidak apa-apa, karena kau sudah berusaha.” Padahal saat itu ulangan bahasa arabku mendapat 68.
Ibu.. masih ingat senyuman itu? Senyuman ketika aku memamerkan nilai nilai baik yang kuperoleh saat ulangan. “ibu, aku dapat 96 di matematika! 99 di biologi! 80 di fisika! Dan 92 di PAI!” Ocehku sambil menunjukkan kertas ulangan bertinta hitam itu. Kau hanya tersenyum dengan wajah berbinar dan berkata, “Alhamdulillah”.
Ibu.. masih ingat dengan usaha ibu kan? Yang selalu berusaha membangunkanku jam 4 sampai 5 subuh, untuk melaksanakan tahajud dan sholat wajib? Padahal hampir setiap hari aku selalu bangun kesiangan, sulit dibangunkan.. tapi.. kau tidak pernah bosan ya?
Ibu.. masih ingat dengan nasihat dan perintah kan? Ibu tidak pernha bosan memberiku nasihat ataupun perintah tentang sesuatu yang berbau islami. Walaupun kadang aku tidak mendengarkannya. Namun.. tetap saja ibu tidak bosan ya?
Ibu.. maafkan aku yang jarang mengatakan kata cinta padamu. Atau, tindakan yang berarti aku menyayangimu. Buru buru mencium pipimu, untuk memeluk saja itu adalah tindakan yang jarang. Biasanya aku hanya mencium tanganmu atau menggandengnya. Maaf ya bu, bukan berarti aku tidak sayang ibu. Tapi, karena aku terlalu malu untuk mengekspresikannya, keturunan ayah yang kaku kan? Hehehe...
maaf ya bu, kalau aku belum bisa mengatakannya dalam bentuk suara atau tindakan. Tapi disini aku akan mengatakannya..
“Aku sayang ibu, aku sayang ibu, aku sayang ibu, aku sayaaaaaaaaang ibu, aku sayaaaaaang ibu, dan aku sayang ibu.”
Ibu benar-benar hebat! Bisa menanggung beban di pundak yang mungil itu. Dulu ketika aku masih kecil, bahu itu terlihat besaaar sekali. Tetapi sekarang, bahumu terlihat mungil. Apa dikarenakan tinggi kita yang berbeda jauh? Ah, bukan kok. Jadi selama ini kau membantu masalahku dengan menanggung beban keluarga juga kah? You’re amazing mom. Very amazing.
There’s no words i can say anymore. You’re best mother until now in my life. You’re carefully is to much, i can’t write that all. That things maybe can take all of my hours. So, mom.. ther’s words for you, from me.
“thanks for gave me birth in this world”
“Thanks for you’re carefully for me until now”
“Thanks always to be in my side”
“Thanks always hear my stories”
“Thanks for always support me”
“And mom...”
“I LOVE YOU”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar